Ada banyak plugin cache WordPress yang bisa digunakan untuk mempercepat website, namun dari sekian banyak plugin cache saya lebih menyarankan menggunakan plugin LiteSpeed cache WordPress dengan beberapa pertimbangan dan berdasarkan pengalaman pribadi menggunakan beberapa plugin cache WordPress.

Apa yang di maksud dengan LiteSpeed cache WordPress?

Plugin LiteSpeed cache adalah sebuah teknologi terbaru yang berguna untuk mempercepat website, sehingga dapat berguna untuk hasil SEO yang baik dan meminimalisir rasio pentalan (bounce rate) akibat website sangat lambat. Selain itu dapat juga menghasilkan konversi yang lebih baik.

Review dan Setting Plugin LiteSpeed Cache

Bagaimana cara kerja plugin LiteSpeed cache?

Setiap kali seseorang mengunjungi website Anda pasti akan memuat tampilan web secara normal dan keseluruhan. Jika Anda menggunakan LiteSpeed cache maka server akan menyimpan file tersebut dalam RAM, jadi ketika membuka website Anda kembali maka server akan memberikan salinan halaman yang sudah tersimpan.

Jenis-jenis cache

Cache memiliki banyak jenis yang perlu Anda ketahui, diantaranya yaitu:

1. Cache browser

Dalam browser cache file akan disimpan pada browser itu sendiri.

2. Cache server

Kalau cache server akan menyimpan hasil permintaan sebuah tampilan halaman ke dalam server. Kemudian hasilnya akan ditampilkan kembali jika ada permintaan dan itu sangat menghemat waktu pemrosesan.

3. Cache object dan full page

Cache object maksudnya hanya menyimpan sebagian data sementara, sedangkan cache full page menyimpan seluruh halaman website.

Manfaat menggunakan plugin LiteSpeed cache WordPress

Ada banyak sekali manfaat menggunakan plugin LiteSpeed cache WordPress untuk website Anda, apa sajakah itu?

1. Meningkatkan kecepatan dan kinerja website

Pengunjung akan mengunduh data dengan cache tersebut dan menyimpannya ke komputer Anda. Untuk membukanya kembali akan lebih cepat dari pada mengunduh ulang dari server, meski internet Anda lambat.

2. Menghemat bandwidth

Ada konten tertentu yang tidak perlu diunduh berulang kali, seperti halnya logo website pasti akan sama pada halaman lainnya. Bayangkan saja jika tidak menggunakan cache pasti akan mengambil gambar berulang kali di setiap halaman pada suatu server. Setiap permintaan ke server akan membutuhkan bandwidth dan jika dilakukan berulang kali pasti lebih banyak membutuhkan bandwidth, maka dari itu dengan menggunakan cache dapat menghindari pemrosesan yang berulang kali dan akan menghemat bandwidth.

3. Memberikan pengalaman pengunjung yang lebih baik

Hari gini apa masih ada pengunjung website yang rela menunggu hingga 5 detik untuk memuat halaman wesbsite? Yang ada pasti sudah pada kabur, jika seperti itu segera lakukan pemasangan plugin LiteSpeed cache WordPress agar pengunjung website Anda lebih senang sehingga dapat menghasilkan konversi.

Baca :  Cara Menonaktifkan Gutenberg Menjadi Classic Editor TinyMCE

4. Mendapat peringkat pertama pada pencarian Google (SEO)

Google sudah lama memberikan informasi mengenai kecepatan website adalah faktor yang dapat mempengaruhi peringkat halaman pada pencarian. Meski banyak sekali faktor yang mempengaruhi SEO, tetapi sekarang lihat saja website yang memiliki kecepatan bagus akan lebih mudah dalam pencarian Google.

5. Mengurangi beban server dan database

Dengan menggunakan cache beban server website Anda akan berkurang, selain itu juga bisa Anda lihat pada database. Ini cocok sekali bagi Anda yang menggunakan paket hosting terbatas.

Kenapa LiteSpeed Cache Menjadi Plugin WordPress Terbaik?

Dengan beberapa fitur yang dimiliki LiteSpeed, menjadikannya pilihan plugin cache terbaik di WordPress, LiteSpeed cache WordPress plugin juga sering disebut (LSCWP) adalah plugin akselerasi web terlengkap yang pernah saya gunakan, ada banyak sekali fitur untuk optimisasi, selain itu LSCWP juga mendukung plugin lain seperti WooCommerce, Yoast SEO dan lain-lain.

Fitur-fitur yang Dimiliki LiteSpeed Cache WordPress

Image Optimization

Ternyata LiteSpeed juga memiliki fitur untuk mengkompresi sebuah gambar di website, sehinggan website Anda menjadu lebih ringan dan cepat.

Server Level Full-Page

Website yang sudah terseimpan di web server agan lebih cepat diakses, karena LiteSpeed cache sudah terintegrasi dengan LiteSpeed web server.

Crawler

Jika ada halaman website yang sudah habis masa cache, maka plugin LiteSpeed cache akan secara otomatis mengecek dan merefresh.

Lazy Load image

Keuntungan dari fitur lazy load image yaitu ketika mengakses gambar akan terasa lebih cepat.

Browser Cache Support

Konten statis dapat ditampilkan di perangkat pengguna dengan menggunakan plugin LiteSpeed cache.

Selain lima fitur di atas LiteSpeed WordPress Cache juga menawarkan berbagai fitur unggulan lainnya yang memungkinkan kecepatan website Anda semakin optimal.

Cara Install Plugin LiteSpeed Cache di WordPress

  1. Silahkan login ke halaman dashboard website
  2. Pilih menu Plugins > Add New
    Cara Install Plugin LiteSpeed Cache di WordPress
  3. Tuliskan LiteSpeed pada halaman pencarian dan jangan lupa untuk klik install
    Cara Install Plugin LiteSpeed Cache
  4. Setelah diinstall jangan lupa juga untuk klik Active
  5. Sekarang plugin LiteSpeed cache sudah selesai diinstall dan jangan lupa untuk setting terlebih dahulu
Baca :  Cara Optimasi Gambar di Website WordPress

Cara Setting/Konfigurasi Plugin LiteSpeed Cache WordPress

Setelah selesai menginstall plugin LiteSpeed cache WordPress, saatnya kita melakukan konfigurasi untuk hasil yang baik, sebenarnya setting dari defaultnya juga sudah, namun alangkah baiknya jika Anda lebih memahami dari setiap pengaturan yang ada pada dashboard LiteSpeed cache.

Untuk mengatur konfigurasi langsung saja kunjungi Dashboard WordPress > LiteSpeed Cache > Settings, ada banyak tab-tab yang perlu Anda ketahui dan akan saya jelaskan di bawah ini.

General

setting litespeed

Hal pertama yang dilakukan dalam konfigurasi plugin LiteSpeed cache yaitu mengaktifkan plugin tersebut (Enable LiteSpeed Cache). Konfigurasi lainnya pada tab general yaitu menentukan parameter expired dari berbagai jenis konten dalam cache.

Jangan bingung dengan banyaknya tulisan TTL (Time to Live) yang memiliki arti lamanya sebuah halaman yang tercache sebelum LiteSpeed cache menganggap halaman tersebut sudah expired. Dan ketika halaman sudah expired maka akan dihilangkan dari cache. Untuk setting defaultnya sudah sangat bagus, namun Anda juga masih bisa merubahnya.

Enable LiteSpeed Cache

Memiliki pilihan Disable dan Enable, pilih disable jika ingin menonaktifkan plugin ini atau enable untuk mangaktifkan.

Default Public Cache TTL

Mengatur berapa lama waktu yang dibutuhkan dalam cache halaman publik, dapat Anda tuliskan dalam detik mulai dari 30 detik hingga disarankan 604800 detik. Jika halaman website Anda dalam waktu lama tidak mengalami perubahan maka TTL dalam waktu lebih lama lebih baik. 1 jam (3600), 1 hari (86400), 1 minggu (604800), Anda juga bisa mengubah sesuai keinginan.

Default Private Cache TTL

Mengatur berapa lama waktu yang dibutuhkan dalam cache halaman private. Mulai dari 60 detik hingga maksimal 3600 detik. Saya merekomendasikan 1800 detik sesuai dengan pengaturan defaultnya.

Default Front Page TTL

Mengatur berapa lama waktu yang dibutuhkan dalam cache halaman depan, lama cache halaman depan bisa Anda isi mulai dari 30 detik hingga disarankan 604800 detik. Jika Anda sering mengupdate tampilan halaman depan bisa juga menggunakan 1800 detik. Tetapi jika tidak sering update halaman depan gunakan sesuai defaultnya saja.

Default Feed TTL

Mengatur berapa lama waktu yang dibutuhkan dalam cache feed website, feed website dapat membantu pengunjung untuk tetap dapat update terbaru dari konten-konten yang ada di website Anda. Namun mereka juga membutuhkan waktu dalam mengambil data dari website Anda, jika Anda mengisi kurang dari 30 detik maka sama dengan 0 alias tidak akan di cache.

Baca :  Cara Mengatur Blog di WordPress

Default 404 Page TTL

Mengatur berapa lama waktu yang dibutuhkan dalam cache halaman 404 atau halaman yang tidak ditemukan, dalam pengaturnya defaultnya disarankan 3600 detik dan jika Anda mengatur dibawah 30 detik maka tidak akan di cache.

Default 403 Page TTL

Pengaturan defaultnya sama dengan halaman 404 yaitu 3600 detik. Hasil 403 biasa secara sengaja, jadi tidak ada salahnya jika memiliki waktu TTL yang lebih lama untuk konfigurasi ini.

Default 500 Page TTL

Sama halnya halaman 404 dan 403, untuk cache halaman 500 disarankan mengisi 3600 detik. Error ini biasanya lebih parah dari pada 404 atau 403.

Automatically Upgrade

Anda dapat memilih upgrade plugin LiteSpeed cache secara otomatis (ON) atau manual (OFF).

Cache

konfigurasi litespeed cache

Pada tab ini Anda akan mengkonfigurasi jenis konten apa yang ingin di cache, sebenarnya pada tab ini juga sudah diatur dengan baik secara default, jadi Anda tidak perlu repot-reot untuk mengatur ulang. Dan sepertinya Anda tidak terlalu menggunakan tab ini dan tab-tab selanjutnya seperti Purge, Excludes, Optimize, Tuning, Media, CDN, ESI, Advanced, Debug dan Crawl, karena tab-tab tersebut sudah ada pengaturan default yang bagus.

LiteSpeed Cache vs WP Rocket

data perbandingan litespeed cache

Dari plugin cache tersebut mana yang lebih baik? Banyak sekali yang menanyakan akan hal itu, kalau saya lebih merekomendasikan LiteSpeed jika memang hosting Anda sudah menggunakan LiteSpeed Web Server, jadi akan benar-benar merasakan hasil dari plugin LiteSpeed cache WordPress.

Saya melihat perbedaan yang sangat menonjol antara plugin LiteSpeed dengan plugin WP Rocket ataupun plugin cache lainnya seperti WP Super Cache, WP Fastest Cache menyediakan cache penuh satu halaman WordPress dan menggunakan penulisan ulang untuk memberi tahu server tempat mencari konten yang di cache dan menuliskan ke sistem file, kemudian membersihkan halaman dari cache dengan menghapus file.

Jika semua plugin cache menggunakan cara kerja seperti itu memang benar, yang membedakan LiteSpeed dengan lainnya terletak pada fungsi dasar plugin LiteSpeed cache yang dijalankan oleh modul cache yang dibuat oleh LiteSpeed Web Server. Oleh karena itu file cache tidak disimpan dalam struktur file WordPress. Jadi berbeda dengan plugin cache lainnya.